Nur Fahmil Absor Tergigit Ular dari Dunia Lain Saat UNBK

Ujian Nasional sudah berakhir. Menyisakan pelangi cerita yang menghiasi dinding hati para pelakunya. Kini, tinggal menunggu hasil. Ada yang berdoa, ada yang gembira, ada yang ingin ujian lagi, dan ada juga yang masih sedih.

Adalah Nur Fahmil Absor anak kelas IX C putra kesayangan dari Ibu Yuliana, S. Pd. Si kurus dari Mandung ini sangat akrab di bibir dan telingan Ibu wali kelas yang nyentrikini. Mengapa, karena anak yang satu itu sering sekali masuk BP. Entah karena terlambat, tidak masuk sekolah, atau menabrak seseorang di jalan raya alias kecelakaan pernah dalaminya.

Ujian nasioal berbasis komputer tiba. Semua siswa antusias menghadapi perhelatan nasional yang begitu menghebohkan dikalangan pelajar itu. Ujian pakai komputer, ujian sangat berat, ujian sangat mendebarkan, mose harus bergerak tidak boleh lebih dari 5 menit. logut, sadown, username dan lain lain adalah istilah yang sekarang akrab di telinga peserta didik. Ditambah lagi istilah proktor, teknisi, exam, firtualbook, sesi juga setiap malam menggema di alam bawah sadar pikiran para pelaku UNBK tahun 2018 ini.

Hari pertama, Senin (23 April 2018) sedikit kacau. Server yang sudah dipersiapkan matang tidak konek alias stanbay. Token tidak muncul sehingga siswa siswi di Raum 2 dan Raum 3 belum bisa mengerjakan soal Bahasa Indonesia. “Raum 1 bisa”, kata pak Yuhad sambil menghisap sebatang rokok, ” Tapi servernya stanbay”. “Wah kacau server UN bongkrek, lebih enak UAMBN,” begitu seloroh proktor utama di MTs NU Raum yang tingginya tidak terkatakan. “Bagaimana ini? Kendala pusat, seluruh Indonesia. Alhamdulillah ……. tak kiro ngone dewe tok, yowis,” kata pak Yudi yang notabene teknisi Raum 3. Akhirnya hari pertama dapat dialui dengan damai.

Hari kedua, Selasa (24 April 2018) Sesi pertama dan kedua berjalan tanpa halal rintang. Lancar semulus tol Cipali. Tenang setenang kuburan. Semua senang dan sambil membawa senyuman ke mana-mana. Namun Sesi 3 di Raum 3 mendadak bising, riuh rendah, suara HT saut sautan. “Server mati. Server meninggal, samar samar terdengar kalimat tersebut”. Bpk Moh. Ubaidillah, S. Ag sebagai Proktor di Raum 3 segera bertindak. Menyalakan lagi komputer server namun gagal. Berkali kali namun gagal terus. Datanglah Bpk Rohmad Hidayat, M. Pd. “Paling RAM e dingo dolalan sing tunggu. Cobo walien,” berkata lirih sambil memegang perutnya yang agak buncit seperti orang yang mau melahirkan. Ternyata benar, begitu RAM di bersihkan dan dipasang lagi server bisa nyala dan berhasil menyelesaikan sampai akhir. Alhamdulilah

Hari ketiga, Rabu (25 April 2018) Raum 3 punya cerita lagi. Server yang kemarin mati, sekarang mati lagi. Peserta ujian baru mengerjakan 30 menit. Semua proktor dan teknisi bahu membahu menyelesaikan problem di Raum 3 namun gagal semua. Belum bisa, belum konek dan perserta ujian belum bisa melanjutkan mengerjakan ujian mapel Bahasa Inggris. Akhirya Mr Yuhad sebagai proktor utama menghubungi HELPDES kabupaten. Menggunakan Vioepiver akhirnya setting di perbaiki dan berhasil. Walaupun peserta ujian baru bisa mengerjakan pada menit menit terakhir.

Hari keempat Kamis (26 April 2018) Raum 1 punya cerita. Adalah Nur Fahmi Abso, Si Kurus Ceking dari 9C berangkat menuju rumah neneknya untuk bermain. Rumah neneknya tidak begitu jauh dari rumahnya. Setelah puas bermain di rumah neneknya, menjelang magrib pulanglah dia kerumahnya. Nasib tak dapat raih malang tak bisa ditolak. Ketika hampir sampai dirumahnya ada seokor ular yang tengah melintas. Ular mendesis keras. Suaranya bak anak macan yang kehilangan makanannya. Pas pada detik yang sama ketika ular melintas terinjaklah oleh kaki si Fahmi. Sontan ular beranjak naik dan dengan secepat kilat menggigit anak Mandung tersebut. Rasanya biasa saja. tak begitu sakit. kayak digigit semut. Ia tidak sadar ada bisa/racun  yang menjalar ditubuhnya. ketika sampai dirumah ternyata kaki kakannya membengkak besar. Merah seperti besi yang terkena api 100 derajat selcius. Panas dingin menyelimuti hatinya saat itu.

Dengan tergopoh gopoh dan berjalannya agak tertatih teriaklah ia menyebut ayah dan ibunya. “Mae, Pake……’ Tetangga dan seisi rumahnya terkejut. Ada apa gerangan? Pada saat orang-orang akan menjalankan solat maghrib terdengara suara teriakan dan mengaduh seperti rintihan di alam kubur. “Adu aduh, pusing, mual, aku tak kuat,” begitu erangan Fahmi sambil melihat kaki kanannya yang semakin membesar. “Ada apa Nak,” sahut ibunya. “Ini Bu, Aku digigit ular”. “Ular apa? Cobra, Dumung macan, lariangon, derik atau anaconda?” tanya ibunya sambil mengusap air matanya karena khawatir akan keselemataan anaknya.

“Pangil ayahmua Zah,” kata ibu Fahmi yang tak bisa menyembunyikan ke khawatirannya. Izah, adik perempuan Fahmi segera muncul dari belakang rumah diiringi ayahnya. ” Ada apa bu?” tanya ayah Fahmi. “Ini pak anakmu digigit ular, ” Ular? Mana ?”  Melihat kondidisi kaki yang memerah dan besar langsung naluri kebapakannya keluar. “Ayo sekarang di bawa ke Ibu dokter di Bongkol,” Maaf pak saya tidak punya obat tetanus coba pergi ke Dokter Munarto atao Dokter Sigit Angin-Angin. Maaf Pak saya juga tidak punya obat anti tetanus, kata Dokter Sigit sambil mencari-cari tempat obat di sampingnya. Bawa saja ke puskesmas Pak!

Dipuskesmas juga tidak ada obat yang tepat untuk menangi pasien tergigit ular sehingga Puskesmas Wedung membuat surat Jalan Ke RSU Sunan Kalijaga. Akhirnya, menginaplah Fahmi semalaman di RSU Sunan Kalijaga. Kesehatannya berangsur-angsur stabil. Namun ada keresahan yang terlihat di wajah Fahmi. “Besok aku UNBK Mapel IPA untuk yang terakhir. JIka tidak bisa ujian berarti harus mengulang. Waduh gimana ya…” ucap Fahmi dalam hati.

Sekitar pukul 09.00 datanglah Pak Agus Sunarko dan Mas Fasikhin keruma sakit. Maksud kedatangan kedua orang tersebut adalah untuk minta izin agar Fahmi bisa mengikuti UNBK untuk yang terakhir. Diskusipun akhirnya terjadi. Negoisasi akhirnya berjalan baik dengan keputusan bahwa Fahmi bisa mengikuti UNBK tapi harus didampingi oleh seorang perawat. Persiapan menuju madrasah akhirnya dilakukan. Tepat pukul 10 30 Fahmi sampai di madrasah dan bisa mengikutu UNBK.

Setelah selesai kembalilah Fahmi ke RSU untuk melanjutkan pengobataan agar bisa atau racun ular bisa di atasi dan tidak menimbulkan hal-hal yang membahayakan bagi kesehatan Fahmi. Selang beberapa hari terdengar kabar bahwa Fahmi sudah diizinkan pulang dirumah untuk pemulihan. Di madrasah masih ada 2 kegiatan lagi yang harus diikiti Fahmi yaitu Zarkasi dan Haflah Muaddaah. Semoga lekas sembuh. Semoga pengalaman ini dapat dijdikan pelajaran bagi siapapun yang akan mengikutu ujian. bahwa tidak hanya faktor teknis saja ynag diperhatikan namun faktor nonteknis juga harus diperhatikan terutama kesehatan.

Semoga

 

 

 

2 thoughts on “Nur Fahmil Absor Tergigit Ular dari Dunia Lain Saat UNBK”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.